Rabu, 31 Disember 2014

MENINGKATKAN ILMU

MENINGKATKAN ILMU

Keterangan : ( Martabat = peringkat = level =
tahap ) ( Nafsu = kwalitas = derajat )

** MARTABAT NAFSU **
Bila kita berbicara tentang nafsu maka yang
muncul dipikiran kita adalah tingkah laku
manusia yang tidak baik, nafsu adalah perbuatan
syaitan, nafsu adalah hal-hal yang berhubungan
dengan perbuatan negatif.
Pengertian nafsu disini kita bagi menjadi 2
bagian :
Pertama : Nafsu dalam artian Negatif yaitu
yang timbul karena kekotoran hati manusia.
Kedua : Nafsu yang diartikan sebagai
peringkat atau level atau martabat hati manusia.
Dalam usaha kita untuk mendekatkan diri dengan
Allah maka kita perlu untuk mensucikan tiap-tiap
martabat dari nafsu, kita harus bisa menembus
hijab-hijab yang ada pada tingkatan nafsu-nafsu
ini agar manusia bisa mengenal dirinya dan
mengenal tuhannya.
Adapun nafsu itu letaknya dicabang hati
manusia, nafsu disini bertindak sebagai dinding
(hijab) hubungan antara diri rahasia manusia
dengan tuan empunya diri (Tuhannya).
Oleh karena itu tugas manusia yang hendak
menuju kepada makrifat hendaklah bisa
memecahkan dinding-dinding hijab ini sehingga
bisa sampai ke martabat yang paling tinggi yaitu
kemulian disisi Allah s.w.t.
Dan tentunya kalau bisa kita membuka hijab-hijab
ini maka bebaslah diri batin manusia itu untuk
bertemu dengan diri empunya diri pada setiap
waktu dan setiap saat.
Tanpa memecahkan dinding-dinding nafsu ini
manusia tidak mungkin dapat kembali kepada
Tuhannya semasa hidup didunia atau mematikan
dirinya sebelum mati.
Kita harus bisa sampai kemartabat “ mematikan
diri sebelum mati “ kalau mau kembali kepada
Tuhannya saat masih bernafas.
Adapun martabat nafsu pada diri manusia terdiri
dari tujuh nafsu sebagaimana yang termaktub
dalam Alquran :
1. 1. Nafsu Amarah
2. 2. Nafsu Lawamah
3. 3. Nafsu Mulhamah
4. 4. Nafsu Mutmainnah
5. 5. Nafsu Radiah
6. 6. Nafsu Mardiah
7. 7. Nafsu Kamaliah
Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah
Al-Mukminun ayat 17
Artinya : sesungguhnya kami telah menciptakan
keatas dirimu tujuh jalan (nafsu)
1. NAFSU AMARAH
Adapun nafsu amarah adalah satu kelakuan dari
hati yang menimbulkan suatu perangai yang
mengandung sifat-sifat Mazmumah yang
berlebihan.
Manusia-manusia yang memiliki nafsu amarah
biasanya memiliki sifat-sifat yang tidak disukai
oleh Allah seperti : Dengki, khianat, iri hati,
pemarah dan lain-lain, biasanya mereka yang
dikuasai nafsu amarah bertindak mengikuti fikiran
tanpa menggunakan akal, mereka merasa diri
merekalah yang berkuasa atas ini dan itunya.
Firman Allah surat Yusup ayat 53
Artinya : sesungguhnya nafsu amarah itu
senantiasa menyuruh berbuat jahat.
Firman Allah surah Al-Jaashiah ayat 23
Dan sesungguhnya orang-orang yang diliputi
nafsu amarah biasanya tak tahan diuji dan jika
diuji dengan satu ujian atau cobaan mereka terus
emosional bertindak mengikuti fikiran dibawah
hasutan syaitan.
Pada peringkat ini manusia-manusianya dikuasai
oleh syaitan, jiwanya sering tegang, fikiran sering
kusut, jarang sekali untuk mengingat Allah.
Mereka diperingkat nafsu ini akan mengingat
Tuhan ketika susah dan melupaiNYA di saat
senang.
Firman Allah surah Fusyilat ayat 51
Apa yang mereka lakukan semuanya semata-
mata dorongan dari fikiran mereka dan tidak
pernah timbul di hati mereka perasaan bersalah
atas kesalahan yang mereka lakukan.
Sesungguhnya nafsu amarah ini adalah nafsu
binatang bahkan lebih hina dari binatang karena
mereka yang dikuasai amarah mempunyai hati
tapi tidak “ memerhati “, mempunyai mata tapi
tidak melihat dan mempunyai pendengaran tapi
tidak mendengar, mereka-mereka ini bolehlah kita
sebut binatang yang berupa manusia.
Surat Al-Aaraaf ayat 179
Sifat-sifat lain yang biasanya ada pada mereka
yang dikuasai nafsu amarah seperti : tidak
bersyukur atas sesuatu yang diperolehnya, suka
mencela kelemahan orang lain walaupun teman
karibnya sendiri, membayangkan dialah orang
yang paling baik dan sempurna.
Justru karena itu adalah menjadi kewajiban dari
manusia tersebut haruslah menyucikan sifat-sifat
nafsu amarah tadi supaya timbul sifat-sifat murni
dan hilangnya sifat-sifat mazmumah.
Surah Asy-Syams ayat 710
Zikir orang yang masih di tingkatan nafsu amarah
hanya dilidah saja tidak menyerap ke dalam hati,
zikirnya hampa tidak bertenaga. Jiwa mereka
pada tingkatan ini kosong, hubungan dirinya
dengan empunya diri terputus, bahkan diri
rahasianya di hijab dari Allah swt.
Orang seperti ini diri batinnya kurus, sakit
tersiksa sedangkan badan zahirnya gemuk dan
sehat, penyakit nafsu amarah jika dibiarkan
menular pada jiwanya menyebabkan tertimbunya
selaput tebal untuk dirinya mengingat tuhannya
dan hidupnya terus hanyut tidak berpedoman
bagai awan tertiup di langit.
Sesungguhnya bagi mereka yang dikuasai oleh
nafsu amarah termasuk dalam golongan manusia
yang rugi disisi Allah swt.
2. NAFSU LAWAMAH
Pada tingkat nafsu Lawamah manusia telah
dapat menguasai satu perasaan semacam
larangan bagi dia untuk melakukan sesuatu
kesalahan, kezaliman atau apa saja yang dilarang
oleh syariat.
Perasaan ini timbul pada sudut-sudut hatinya
ketika mereka hendak melakukan sesuatu
kesalahan, bisikan didalam hatinya ini yang
disebut LAWAMAH.
Lawamah ini di ibaratkan seperti lampu isyarat di
dalam mobil dimana lampu ini akan menyalah
berwarna merah bila mobil tersebut hampir
kehabisan bensin yang mengisyarat kita supaya
mengisi bensin lagi sebelum nantinya mogok di
jalan.
Bagi mereka yang mempunyai Lawamah dan
mematuhinya dengan rasa tanggung jawab maka
akan terselamatkan dari bahaya yang akan
datang sebaliknya jika seseorang yang telah
meningkat ke martabat nafsu lawamah tetapi
tidak mematuhi isyarat larangan maka lama
kelamaan akan padam dan kembalilah mereka ke
nafsu amarah lagi.
Zikir mereka pada tahap ini masih melekat dibibir
tapi kadang-kadang menyerap masuk ke dalam
hatinya dan keadaan ini tidak tetap maka
seharusnya orang ini meneruskan zikirnya dengan
penuh ketabahan.
Mereka pada martabat ini masih ada sifat-sifat
tercelah ( mazmumah ) tetapi sudah berkurang,
jika mereka tetap patuh terhadap isyarat yang
timbul di susut-sudut hatinya maka lama
kelamaan sifat-sifat mazmumah ini akan hilang.
Lama kelamaan mereka akan merasa segan
untuk melakukan sifat-sifat mazmumah dalam
hati mereka akan timbul penyesalan atas sikap-
sikap mereka yang terdahulu.
Firman Allah Surah Al-Qiyamah ayat 2
Maka dengan ketekunan mematuhi isyarat serta
kuat pula berzikir maka tingkatan nafsu mereka
akan meningkat ke martabat nafsu yang lebih
tinggi yaitu NAFSU MULHAMAH.
Pada peringkat nafsu Lawamah orang ini dapat
menerima Ilmu Gaib melalui LADUNI pada
peringkat Nur atau mimpi dalam tidurnya dan
kadang-kadang dapat pula menerima ilmu melalui
Laduni di peringkat Tajali.
Oleh karena itu seseorang di peringkat ini
haruslah berusaha dengan tekun dan sabar
mengikuti petuah-petuah gurunya agar
peningkatan martabat nafsunya akan tercapai.
3. NAFSU MULHAMAH
Setelah seseorang berhasil mengikuti petuah-
petuah gurunya dan menerima isyarat nafsu
lawamah dengan patuh maka dia akan mencapai
tahap nafsu yang lebih tinggi dan mulia
martabatnya daripada nafsu Amarah dan nafsu
Lawamah, adapun yang di maksud dengan nafsu
tersebut adalan Nafsu MULHAMAH,
Pada peringkat ini mereka dapat menyingkirkan
sebagian besar sifat-sifat yang tercelah, jiwa
mereka mulai berkembang sifat-sifat baik, lapang
dada, mereka dapat pengajaran ilmu gaib melalui
jalan LADUNI diperingkat Nur dan Tajali daripada
tuhannya.
Jiwa mereka kadang-kadang tenang dan
adakalanya pikirannya gelisah, singkatnya sifat-
sifat Mazmumah masih melanda jiwa mereka,
zikir mereka di peringkat ini mulai melekat di hati
tetapi tidak 100% telah tetap di hati mereka.
Larangan berupa isyarat tetap berkembang dan
lebih membesar dan pada peringkat ini mereka
dapat merasakan perasaan “ zuk “, seseorang di
peringkat ini akan menerima satu lagi cara
penyampaian ilmu gaib melalui Laduni di pe
ringkat SIR, di mana dia dapat mendengar suatu
suara gaib yang mengajar dirinya tentang ilmu
gaib melalui telinga batin.
Biasanya suara gaib itu adalah suara guru gaib
yang terdiri dari pada wali-wali Allah yang agung
yang mengajar seseorang itu dengan terang dan
jelas.
4. NAFSU MUTMAINNAH
Setelah mencapai suatu martabat Nafsu
Mulhamah dan selalu mengikuti petuah-petuah
gurunya serta dapat pula menerima “ zuk dan Sir
“ di samping hilang pula segala sifat Mazmumah
pada dirinya maka seseorang itu akan
mendapatkan ketenangan, kelapangan jiwanya
hilang perasaan resah dan gelisah di hatinya.
Hatinya saat ini mulai melekat rasa lamunan
kasih terhadap Allah swt,
Firman Allah Surah Yunus ayat 62-64
Firman Allah Surah Al Fajr ayat 27-30
Zikir mereka di tingkatan ini sudah melekat di
hati dan ingatannya terus bersama Allah pada
setiap saat, pada peringkat ini seseorang manusia
dapat di sifatkan mencapai martabat wali, ( di
namakan oleh para tasauf wali kecil ), di samping
itu mulai dapat menerima ilmu gaib (Laduni)
secara SIR USIR,
Pada peringkat nafsu Mutmainnah mereka dapat
mendengar dan melihat dngan pendengaran dan
penglihatan mata batin, mereka dapat melihat
dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana
suka dukanya seseorang yang sudah meninggal
dunia dan beada di alam Barzah serta di beri
peluang juga menjelajahi ke alam lain ( alam
gaib ).
Pada peringkat ini timbulah sifat-sifat super yang
tidak di miliki oleh orang-orang awam seperti :
Keramat, Mendapat Ilham dan sebagainya, bagi
mereka di peringkat ini sering di lamun persaan
dan fana akibat kuatnya gelora lamunan cinta
terhadap Allah swt.
5. NAFSU RAADIAH
Setelah mencapai martabat Nafsu Mutmainnah
dan gigih melatih dirinya untuk Makrifat kepada
Allah swt maka seseorang itu akan di tingkatkan
lagi ke martabat nafsu RADIAH.
Zikir mereka pada saat ini tetap berada di hatinya
dan ucapan zikirnya pula di hatinya semata-
mata, mereka tidak pernah lupa atau lalai kepada
Allah swt.
Pada martabat ini jiwa mereka suci, hati mereka
bersih hening dan setiap apa yang di lakukan
olehnya seirama antara hati, mulut, perbuatan,
semuanya mulai mendapat keredaan Allah swt.
Adapun fana mereka dinamakan fana Qalbi yaitu
hati nuraninya terus dilambung perasaan cinta
kepada Allah swt pada setiap saat di manapun
berada.
Mereka pada peringkat ini sering di jemput oleh
wali-wali Allah yang agung untuk menjelajahi kea
lam-alam gaib yang jauh keluar dari pemikiran
manusia, di samping mereka terus di ajar tentang
ilmu gaib yang lebih tinggi dan teknologi ilmu
Allah yang tinggi yang sudah tentu tidak bisa di
tandingi dengan teknologi manusia.
Disamping itu mereka bisa terus berkomunikasi
dengan para rasul, nabi-nabi, aulia dan para wali-
wali Allah, mereka dapat membicarakan hal-hal
yang behubungan dengan ilmu gaib dan tentang
petuah-petuah makrifat dengan Allah swt.
Kontak mereka ditingkatan ini adalah dengan Nur,
Sir dan Sirusir pada saat kontak dengan para
rasul-rasul, nabi-nabi, aulia dan para wali-wali
Allah mereka dapat menikmati satu kelezatan
yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata
hanya bisa dirasakan sendiri oleh mereka yang
sudah sampai tingkatan ini.
6. NAFSU MARDIAH
Bagi mereka yang sudah sampai martabat Nafsu
Mardiah jiwa mereka sering Fana Bakabilla yaitu
hatinya, kalbunya dan jasadnya sering sekali
dilamun perasaan cinta yang amat sangat
terhadap Allah swt.
Jiwanya tenang, lapang tidak gelisah, bahkan
seluruh jiwa raganya tertumpu kepada Allah swt
semata-mata, zikir mereka di level ini tetap
bersemedi di dalam kalbu dan tidak pernah lalai
dan lupa kepada Allah swt walaupun cuma
sesaat.
Mereka sering menerima tamu-tamu agung yang
terdiri daripada rasul, nabi-nabi, para arifin billah,
para sidikin dan para wali-wali Allah disamping
mereka juga dapat menerima ilmu gaib secara
LADUNI di peringkat TAWASUL .
Mereka sering menjelajah seluruh alam maya dan
alam gaib yang lain termasukSurga, Neraka,
Arash dan kursi Allah swt.
Firman Allah surah Al Talak ayat 2
Dalam hal pemecahan wajah dirinya, mereka di
tingkat ini sudah mendapat wajah di antara tujuh
wajah ke delapan wajah bergantung kepada
badan masing-masing.
7. NAFSU KAMALIAH
Adapun yang di maksud dengan Kamaliah adalah
keadaan telah berkamil ( sempurna ), pada
martabat ini apa saja kelakuan di antara diri
batin dan jasad adalah sama dan tidak bercerai
berai diantara satu dengan lainnya.
Di mana apapun yang mereka kerjakan di
reringkat ini tetap di setujui dan di ridhai oleh
Allah swt, maka secara sepontan keadaan ini di
namakan …….,
Mereka ini kalau di katakana sakti teramat sakti,
kalau keramat amat keramat, kalau alim teramat
alim mereka mempunyai segala kelebihan yang
tidak di miliki orang awam.
Siapa saja yang sampai ke tingkat ini mereka
berpeluang menerima ilmu Syahadah yaitu Ilmu
Allah yang paling tertinggi yang dapat di peroleh
manusia alam maya ini, ilmu syahadah ini akan di
ajarkan oleh Allah sendiri melalui guru yang di
namakan guru batin.
Bagi mereka yang telah mencapai martabat nafsu
Kamaliah mereka hendaklah berusaha pula
mengembalikan dirinya kemartabat nafsu orang
mukmin yaitu nafsu mutmainnah, mereka tidak
harus tinggal lama di martabat nafsu Kamaliah,
mereka harus menjadikan diri mereka ke orang
awam, bergaul, berniaga, berpolitik dan menjadi
khalifah di alam maya tapi jiwa raganya tetap
bersama Allah.
Fana baka Billah buat selamanya sehingga
derajat dirinya susah di tafsir banyak orang,
mereka disebut sebagai orang alim tidak alim,
sifat manusia yang sempurna dan sederhana
dimiliki oleh mereka di martabat ini dan mereka
mulia di dunia dan akhirat
Akhirul kalam saya sampaikan kepada siapa saja
yang membaca tulisan saya ini, tuntutlah ilmu
tasauf sehingga tercapai martabat yang di
gambarkan dalam uraian ini sehingga kita semua
selamat di dunia dan akhirat.
Berbahagialah bagi engkau yang mencapai
martabatnya.

Salam

0 Ulasan:

Catat Ulasan

Langgan Catat Ulasan [Atom]

<< Laman utama